hari itu, Rabu, 21 Desember 2011, adalah hari saat aku harus meninggalkan kota, tempat aku mencari sesuap nasi dan segenggam berlian, Manokwari. Manokwari yang rusuh hari sebelumnya, 20 Desember 2011, cukup membuatku sedikit panik, ditambah lagi berita di saluran televisi berkelas nasional yang memberikan sebuah gambar suasana jalan Rendani, yang menjadi titik pusat kerusuhan. Jalan itu adalah satu-satunya akses jalan darat menuju satu-satunya bandar udara di ibukota provinsi Papua Barat, Bandar Udara Rendani. Kepanikanku mulai mereda setelah 20 Desember 2011 malam, aku dan teman sekamarku melintasi jalan dan melihat ke arah jalan Rendani yang sudah mulai teran dan ada beberapa lampu kendaraan yang menuju dan keluar dari jalan itu, meskipun pohon-pohon yang sengaja ditumbangkan oleh massa masih tetap bertahan melintang di jalan itu.
Malam itu aku memutuskan bermalam di rumah teman dengan pertimbangan agar lebih dekat dengan rumah teman yang akan mengantarkanku ke bandara keesokan paginya. Hal ini merupakan imbas dari kondisi jalan rendani yang sepertinya akan membuatku lebih aman jika diantar oleh temen yang berjenis kelamin laki-laki. Siapakah pria itu???ia adalah orang yang saat ini mungkin masih merasakan rasa sakit di pergelangan kaki kanannya, seperti judul lagu boyband yang sedang eksis saat ini, SMASH. (alasannya???baca lebih lanjut)
Malam itu, masih tanggal 20 Desember 2011, aku masih berkutat dengan beberapa file yang harus aku titipkan sebelum berangkat. Saat memindahkan file-file itu ke flashdisk, 95% file sudah tertransfer...tiba-tiba..'pet..' leptop mati karena batre habis dan saat itu listrik tidak lagi mengalirkan arus di instalasi listrik rumah. "jiaaaahhhh", keluhku saat leptop otomatis berhibernasi tanpa perintahku. Aku sudah pasrah berharap esok pagi listrik sudah mengalir, dan aku memutuskan untuk beristirahat mengingat waktu sudah menunjukkan pukul...(berapa ya???lupa..)sekitar jam 11 ato 12 malam. Selang beberapa lama, lampu menyala dan aku memutuskan seera melanjutkan pemindahan file-file supaya tidur tidak kepikiran. Selesai transfer data, aku pun tidur.
Rabu, 21 Desember 2011 pukul setengah 4 pagi, aku sudah terbangun lantara suara alarm dari kamar sebelah yang tak kunjung berhenti... aku putuskan segera bangun, packing beberapa barang yang masih berserakan, lalu pergi mandi. Seuasai mandi, aku iseng-iseng mencoba menimbang berat travelbag dengan timbangan badan. Ketika travelbag itu bertengger di atas timbangan, angka 12 ditunjuk oleh jarumnya...fiuh...syukurlah tidak overweight, mengingat free bagage yang diberikan maskapai adalah 15 kg.
Barang-barang bawaan sudah siap...saatnya membangunkan teman yang akan mengantarku ke bandara..dan menunggu kedatangannya sambil nyemul brownis kukus di pagi-pagi buta. Setelah ia datang, sekitar pukul 4.45 WIT, segera barang-barang diangkut dan perjalanan pun dimulai. Belum jauh dari rumah, saat hendak putar balik...tiba-tiba..."gedubraak.." kami ditabrak motor. Kami gelesotan di aspal...hahahaha... Pergelangan kakinya langsung bengkat, mungkin karena kesleo, sementara itu punggung kakiku juga sakit. Sesaat setelah jatuh, aku langsung ngeliat ke arah belakang, takut kalo ada kendaraan lain yang akan melintas... "aman.." pikirku dalam hati setelah melihat di belakang tidak ada kendaraan lain. Orang yang menabrak kami itu mulai ngomel2....aku agak panik setelah tau kalo mereka orang bukan nonlokal, mengingat beberapa hal yang selama ini aku dengar tentang mereka-mereka. Beberapa menit kemudian sebuah motor datang dari arah belakang, yang ternyata adalah polisi. Dengan agak terpincang-pincang, aku bangun dari tidur di aspal dan membawa barang-barang yang berserakan ke tepi jalan dan membantu teman berdiri dan duduk di tepi jalan. Kondisi motor?? jelas tidak lagi sama seperti saat doi baru keluar dari showroom...wkkwkwkwk....
Usai ngomel-ngomel, mereka yang menabrak kami pun pergi. "Mau berangkat kah?", ujar polisi itu dengan logat sana. "iya pak. mau ke bandara. pesawat jam setengah 6 pagi," jawabku sembari duduk di tepi jalan. "Jalan lebar dan sepi begini bisa sampe nabrak," ujar polisi. Terdengar soundtrack Shaun The Sheep dari HPku, di layarnya tertulis "tntc mas sanny". aku angkat... "gimana mas?wis neng bandara? wis dipanggil?"tanyaku sedikit panik. "kowe neng ndi??durung dipanggil kok. dalane iso dinggo lewat tapi yo minggir-minggir mlakune.," sahut orang di seberang sana, yang merupakan temen kantorku yang akan berangkat bareng aku sampai Djuanda. "o..yo wis..sik yo, aku lagi on the way iki...," sambungku dengan nada yang mencoba menenangkan diri. "yo wis...tak enteni.," jawabnya. tut..aku matikan telponku dan kembali pada kondisi di hadapanku..seorang teman yang kesakitan di pinggir jalan dan seorang polisi yang ternyata sedang menerima telepon. "o..brawijaya??ya..ya...saya ke sana," ujar polisi itu, menjawab orang yang menelponnya. "Brawijaya mana ya???" ucapnya semacam kalimat bernada retoris... "Dari lampu merah dekat Hadi itu lurus pak, kalo ke kiri ke arah amban, nah yang lurus itu Brawijaya. Bapak baru kah di sini?" jawabku dengan mengikuti logat sana. "iya...saya dari Ambon." jawab polisi itu. "ya sudah kalo begitu. Bapak tidak apa-apa kan?,"tanyanya lagi. "iy pak," jawab temenku. "Saya jalan dulu kalo begitu," ujar polisi itu sambil kembali mengendarai motornya ke arah brawijaya. Di jalan itu, hanya tinggal kami berdua...masih dipinggir jalan...
to be continue....